PENGELOMPOKAN KE ILMUAN ISLAM PERSPEKTIVE BURHANI

Dalam khazanah kosa-kata bahasa Arab, secara etimologis kata  al-Burhan berarti argumen yang tegas dan jelas . Kemudian kata ini disadur sebagai salah satu terminologi yang dipakai dalam ilmu Mantik untuk menunjukkan arti proses penalaran yang menetapkan benar-tidaknya suatu preposisi melalui cara deduksi, yaitu melalui cara pengaitan antar preposisi yang kebenarannya bersifat postulatif.
Dalam hal ini, Burhan adalah satu jenis dari logika. alau logika itu bersifat umum, maka Burhan bersifat khusus, bagian dari logika itu sendiri, yaitu suatu rasionalitas yang mengantarkan kepada ilmu yakin.Sebagai terma epistemologis, seperti halnyaa al-bayani dan al-Irfan,al-Burhdn di sini adalah sebutan bagi sistem epistemik dalam tradisi pemikiran Arab Islam yang dicirikan oleh adanya metode pemikiran tertentu dan perspektif realitas tertentu pula, yang secara geneologis berhubungan erat dengan tradisi pemikiran Aristotelian. 
Sistem pemikiran Burhani sangatlah berbeda jika dibandingkandengan sistem pemikiran Bayani yang secara a priori telah menjadikan realitas kewahyuan (al-Quran dan sunah) yang terkemas dalam wacana bahasa dan agama sebagai acuan berpijak bagi pemerolehan penge- tahuan. Juga berbeda dengan nalar Irfani yang mendasarkan penge-tahun pada direct experience (pengalaman langsung). Demikian juga, menurut Ibn Bajjah, nalar Burhani (rasional) berbeda dengan nalar Jadali (dialektis).
Sistem epis- temik Burhani bertumpu sepenuhnya pada seperangkat kemampuan intelektual manusia, baik berupa indera, pengalaman, maupun rasio bagi upaya pemerolehan pengetahuan tentang semesta dengan mendasarkannya pada keterkaitan antara sebab dan akibat (kausalitas), bahkan juga bagi solidasi perspektif realitas yang sistematis, valid, dan 79 postulatif.
Nalar Jadali dipergunakan untuk meyakinkan lawan bicara dengan menunjukkan keabsahan atau ketidak absahan suatu ajaran tertentu terlepas dari persoalan apakah pemikiran itu sendiri benar atau tidak. Sedang nalar Burhani dimaksudkan untuk menganalisis faktor kausalitas dari tema-tema yang dikajinya dan merumuskan suatu kebenaran, yaitu pengetahuan yang bersifat benar dan meyakinkan,atau yang dikenal dalam bahasa Aristoteles sebagai "ilmu". Di sinilah letak "keunggulan" nalar Burhani jika dibandingkan dengan nalar yang lainnya, yaitu adanya kenyataan bahwa ia menggunakan silogisme atau penalaran logis dengan menggunakan premis-premis yang benar,primer, dan niscaya, sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan pengetahuan yang benar dan pasti. Oleh karenanya, pembuktian secara demonstratif burhani ini dipandang sebagai metode pembuktian yang paling ilmiah.
Dalam realitas historis, sistem pemikiran Burhani ini banyak dikembangkan oleh kalangan filosuf muslim semisal al-Kindi, al-Farabi,dan Ibnu Sina. Munculnya sistem epistemik ini terkait erat dengan pengaruh budaya Yunani yang masuk ke dunia Islam. Pengaruh ini pada gilirannya menimbulkan dua aliran yang berbeda, yaitu the Hermetic Pythagorean yang pendekatannya lebih bersifat metafisis dengan corak 80 penafsiran simbolik-esoterik, dan the Syllogistic-Rationalistic yang pendekatannya lebih bersifat filosofis dan mengarah kepada upaya penemuan sistem rasional yang mendasari segala sesuatu.
Nalar burhani masuk pertama kali ke dalam peradaban Arab-Islam dibawa oleh al-Kindi (806 – 875 M) namun karena minimnya referensi dan dominasi kaum bayani (fuqoha).  Melalui sebuah tulisannya, yaitu al-Falsafah al-Ula. Sebuah tulisan tentang filsafat yang didasari oleh filsafat Aristoteles. Al-Kindi menghadiahkan tulisan ini kepada khalifah al-Makmun (833 – 842 M).  
Di dalam al-Falsafah al-Ula, al-Kindi menegasakan bahwa filsafat merupakan ilmu pengetahuan manusia yang menempati posisi paling tinggi dan paling agung, karena dengannya hakikat segala sesuatu dapat diketahui. Melalui tulisan itu pula, al-Kindi menepis keraguan orang-orang yang selama ini menolak keberadaan filsafat dan menyatakan bahwa filsafat adalah jalan mengetahui kebenaran. Bahkan Al-Kindi telah memperkenalkan persoalan baru dalam islam; mensejajarkan antara pengetahuan manusia dengan Tuhan, dan mewariskan persoalan filsafat yang terus hidup sampai sekarang; 

(1)penciptaan alam semesta bagaimana terjadinya 
(2)keabadian jiwa, apa artinya dan bagaiman pembuktianya, 
(3)pengetahuan tuhan yang particular, apa ada hubunganya dengan astrologi dan bagaimana terjadinya . 

Nalar burhani sebagai nalar epistemologis yang rasional dan empiric, sangat proporsional untuk diaplikasikan dalam managemen pendidikan. Sebab obyek dari managemen pendidikan adalah persoalan-persoalan yang mayoritas rasionalis empiric. Maka penting sekali dalam memecahkan persoalan pendidikan melalui proses silogisme tentulah dengan akurasi premis-premis yang dapat dipertanggung jawabkan kebenaranya sesuai dengan kritera-kriteria yang sudah dibahas yaitu diantaranya ada yang berpendapat syarat-syarat dari premis-premis ada 3:

(a)Kepercayaan bahwa sesuatu (premis) itu berada atau tidak dalam kondisi spesifik
(b)Kepercayaan bahwa sesuatu itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang lain selain dirinya
(c) Kepercayaan bahwa keperyaaan kedua tidak mungkin sebaliknya.

Begitu pentingya pendidikan bagi seluruh bangsa dan manusia penduduk dunia pada umumnya wabilkhusus bagi umat islam sehingga munculah berbagai disiplin ilmu dan diskusi-diskusi pendidikan. Pendidikan selalu dibutuhkan dan dibicarakan oleh manusia itu sendiri sejak manusia itu sendiri mulai ada dan diciptakan yakni sejak zaman Adam as. Maka diera moderen munculah Managem pendidikan yang visi misinya adalah mengatur pendidikan agar mencapai tujuan yang diharapkan serta brjalan secara maksimal dan komperhensif.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PENGELOMPOKAN KE ILMUAN ISLAM PERSPEKTIVE BURHANI"

Post a Comment